Pages

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 09 Desember 2013

Keterampilan Interpersonal

Pernah terpikirkan tidak oleh agan-agan semua , bahwa keterampilan interpersonal menjadi mata kuliah di universitas / institute ? ya saya sendiri sebenarnya tak pernah terpikirkan mata kuliah ini ada. Tetapi kenyataan nya memang ada , seperti yang saya alami. Saya mahasiswa Sistem Informasi ITS 2013 dan disini saya mempelajari keterampilan interpersonal. Mungkin agan-agan ada yang bingung kenapa ini di masukkan mata kuliah atau kenapa ini dipelajari. Menurut saya Keterampilan interpersonal ini memang baik, karena dengan mata kuliah ini kita di tuntut menjadi interpersonal yang baik dalam menata diri sendiri maupun rekan satu team. Mengapa? karena di Keterampilan Interpersonal ini kita belajar bagaimana memahami karakter diri sendiri maupun karakter orang lain, belajar untuk bekerja sama dengan orang, belajar untuk berbicara di depan banyak orang, belajar untuk disuruh atau menyuruh dalam suatu masalah/pekerjaan. Mata Kuliah Keterampilan interpersonal ini memang menyenangkan tak seperti mata kuliah yang lain . dan saya sangat suka dengan mata kuliah ini yang sangat menyanangkan buat saya. Dan jangan lupa Keterampilan Interpersonal ini HANYA DI SI ITS :D

Kamis, 05 Desember 2013

Cara Membuat Wireless di Windows 8

Cara membuat Ad-hoc network di Windows 8 Kmaren-kmaren para penggila DOTA pada ngeluh karena di Windows 8 gak bisa bikin Ad-hoc, jadi mereka harus mikir 2 kali buat ganti ke Windows 8. Hmm... Penasaran, masa hal yang seremeh itu bisa dilupakan sama Microsoft? Padahal Ad-hoc itu penting lhoo... Haha

 Nah ternyata fitur itu disembunyikan oleh Microsoft, jadi kita harus bikinnya lewat CMD. Gimana cara bikinnya? Cekidott.... Cara membuat Ad-hoc network di Windows 8,,
 1. Buka Start Screen lalu ketikkan cmd

2. Klik kanan dan "Run as administrator" (Icon dibawah)

 3. Setelah itu ketikkan.. - "netsh wlan set hostednetwork mode=allow ssid=NAMA JARINGAN key=PASSWORD" - "netsh wlan start hostednetwork"


 Note : "NAMA JARINGAN" --> Isi dengan nama jaringan sesuai keinginan anda "PASSWORD" --> Isi dengan password sesuai keinginan anda 'netsh wlan start hostednetwork' --> Untuk menghidupkan jaringan ad-hoc Udah selesai... Kalau belum percaya coba suruh teman kamu buat gabung Ad-hoc yang sudah kamu buat lalu coba ping ke IP-nya.

Minggu, 10 November 2013

World War Z

Brad Pitt and zombies go together like peanut butter and jelly. But World War Z is much more than an action-packed treatise on the undead, according to director Marc Forster in an exclusive clip from the upcoming Blu-ray/DVD, out Sept. 17. (The movie will be available digitally beginning Tuesday.) "The film for me is not just a zombie movie. It's sort of a global epidemic, a global apocalypse," Forster says, adding that the title of the book it's based on, Max Brooks' World War Z: An Oral History of the Zombie War, "mirrors this global spread." Pitt, who is also a credited producer on the movie, stars as Gerry Lane, a former United Nations employee who left his old job to live a more normal life with his wife (Mireille Enos) and family. He's brought back into action when a pandemic breaks out all over the world, and Gerry has to travel from South Korea to Jerusalem to Wales to figure out a cure before the Earth's entire population is zombified. Audiences don't have to wait long for all hell to break loose, either. When a cop whizzes by on his motorcycle and breaks the mirror off Gerry's family car, Forster says, "it's the first beat of tension and then really everything starts to derail." World War Z, which made $533 million worldwide this summer, is Pitt's most successful movie to date, and he and fellow producers are considering a sequel. In addition to a piece on Forster's collaboration with Pitt, other bonus features on the Blu-ray release include an exploration of the science behind the walking dead of World War Z and behind-the-scenes looks at several of the movie's set pieces, including the first zombie attack in Philadelphia and the signature sequence set in Jerusalem where thousands of zombies invade a seemingly fortified structure.

PERBEDAAN SBY DAN SOEKARNO KETIKA DISADAP AMERIKA

Sesaat usai pesawat B-26 ditembak jatuh, ada dua parasut mengembang keluar dari pesawat itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa dan pasukan TNI membekuk dua orang. Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta dan satunya lagi seorang bule Amerika. Itulah si pilot Allen Lawrence Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di Indonesia untuk menggulingkan Soekarno. Tak pelak, tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan isapan jempol! Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang”. Tapi sebetulnya yang lebih bikin malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk menggulingkan Soekarno. Seperti biasa, Amerika menyangkalnya. Tapi bukti-bukti yang ada membungkam penyangkalan Washington. Taktik kotor itu jadi isu internasional. Tanpa ampun, kedok operasi CIA dibuka Bung Karno lengkap dengan bukti-buktinya. Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk melengserkan Soekarno langsung dihentikan. Amerika berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan untuk mengambil hati Bung Karno. Presiden AS Dwight Eisenhower mengundang Soekarno ke AS bulan Juni 1960. Lalu Soekarno juga diundang Presiden John F Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu karena kelihaian Bung Karno memainkan isu Allen Pope. Bung Karno main tarik ulur untuk membebaskan Pope. Tarik ulur berjalan alot. Karena Bung Karno tak mau melepaskan Pope dengan gratis dan sengaja berlama-lama sebelum Amerika menyanggupi permintaan Indonesia. Hanya untuk membebaskan seorang Pope, Gedung Putih butuh waktu 4 tahun, sebuah proses negosiasi diplomatik yang menyita waktu dan tenaga. Tapi itulah yang diinginkan Bung Karno, sekaligus memberi pelajaran kepada penguasa Negeri Paman Sam. Dimulai dengan rayuan Presiden Dwight Eisenhower yang mengundang Bung Karno ke Amerika. Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk dan proses negosiasi gagal total. Eisenhower marah dan jengkel, tapi Bung Karno tetap dengan pendiriannya. Sikap Gedung Putih mulai melunak usai jabatan presiden beralih ke John F Kennedy. Mantan senator Partai Demokrat itu tahu Soekarno sangat kuat dan benci kalau ditekan. Di era Kennedy, proses negosiasi menemui titik terang lagi, saat John F Kennedy mengirim adik kandungnya Jaksa Agung Robert Kennedy, menemui Bung Karno di Jakarta. Misinya jelas, Mr President, bebaskan Pope! Tapi Bung Karno tetaplah Bung Karno. Membebaskan Pope atau tidak hasilnya sama saja, tidak akan membuat warga di Ambon yang tewas bisa hidup lagi. Saat itu Indonesia sedang butuh peralatan perang untuk melawan Belanda di Irian Barat, tapi Jakarta tidak punya cukup dana. Tapi Bung Karno gengsi kalau meminta kepada Washington, ia cukup memberikan isyarat agar bisa dibaca oleh penguasa Gedung Putih. Dan John Kennedy peka membaca isyarat itu. Bung Karno pernah berkata “Presiden John F Kennedy sangat mengerti akan diriku”. Kennedy paham Indonesia peralatan perang untuk merebut Irian Barat. Karena itu, John F Kennedy mengundang Bung Karno ke AS dan diajaknya melihat pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno diberi kemudahan oleh Kennedy untuk mendapatkan 10 pesawat Hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker. Meski dikenal sebagai orang yang berwatak keras, Bung Karno adalah sosok tahu balas budi. Rasa pengertian dari Presiden Kennedy langsung dibalas Bung Karno dengan membebaskan Allen Pope dan dipulangkan ke AS. Ini yang diinginkan Bung Karno dari Amerika, membebaskan Pope tidak gratis. Bantuan AS bukan untuk pribadi Bung Karno, tapi untuk kepentingan negara merebut Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Tak hanya itu, Bung Karno juga bisa membuat Kennedy menyudahi embargo ekonomi dan menyuntik dana ke Indonesia, termasuk gelontoran beras 37 ribu ton dan ratusan persenjataan, yang memang dibutuhkan oleh Indonesia saat itu. Dan Bung Karno sudah berhasil mempertontonkan sebuah diplomasi dan negosiasi tingkat tinggi sehingga Indonesia dihargai di mata Amerika Serikat. Akhirnya Allen Pope dibebaskan secara diam-diam oleh suatu misi rahasia saat subuh di bulan Februari 1962. Saat itu Bung Karno sempat berpesan kepada Pope “Tinggalkan Indonesia dan jangan pernah kembali atau negaramu akan membayar pembebasanmu lagi dengan harga lebih mahal”. Kini, saat Indonesia dikerjai Amerika dengan aksi penyadapan, Presiden SBY sama sekali tidak membuat gerakan untuk membalas tindakan arogan itu. Jangankan untuk membalas, mengecam saja, SBY tidak berani. Pantas saja, nama Soekarno tetap harum di mata internasional meski sudah berpulang puluhan tahun silam. Tapi perjuangan dan dedikasinya untuk memajukan Indonesia tetap dikenang hingga kini.@lifetime/berbagai sumber (habis)

Jumat, 13 September 2013

Pemanfaatan Energi Terbarukan Tanpa Keterpaksaan



Tingkat konsumsi energi yang tinggi menyebabkan emisi gas rumah kaca Norwegia terbilang tinggi.

Pernahkah terbayang bila sebuah negara yang kaya minyak mentah dan gas maupun produk-produknya, malah meninggalkan potensi tersebut dan beralih ke energi terbarukan demi menyelamatkan lingkungan tanpa kehilangan sumber energi.
 
Apalagi jika upaya tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi negara.
 
Rasanya lebih wajar jika ada negara yang sebelumnya terkenal sebagai pengekspor minyak mengalihkan fokusnya ke potensi pendapatan lainnya di luar bidang energi, terutama karena cadangan minyaknya menipis.
Di Eropa, cadangan minyak bumi dan gas terbesar ada di Norwegia. Untuk minyak bumi, Norwegia adalah produsen minyak terbesar untuk wilayah Eropa, dan pengekspor minyak terbesar ketujuh di tingkat dunia. Untuk gas alam, Norwegia tercatat sebagai pengekspor gas dunia terbesar kedua setelah Rusia.
Selain menyediakan minyak mentah dan gas alam, negara ini memberikan layanan jaringan pipa penyalur bahan bakar fosil ini, ketiganya menyumbang 50 persen pendapatan negara tahun 2010.
Hingga tahun 2001 kilang minyak di sana sanggup menghasilkan 3,4 juta barel minyak per hari, kini menurun tapi masih dalam kisaran 2 juta barel per hari. Produksi gasnya meningkat terus hingga mencapai 3,6 triliun kaki kubik tahun 2011.
Tidak hanya di Laut Utara, negara ini diberkati dengan banyaknya lokasi potensial minyak hingga ke Kutub Utara. Sejak abad 19, para penambang minyak telah mulai mengambil minyak mentah dari pantai-pantai Norwegia untuk tujuan komersial. Kemudian tahun 1960-an penambangan minyak merambah ke Laut Utara di perairan Norwegia.
Norwegia terkenal sebagai negara modern dengan kebutuhan energi sangat tinggi. Akibat beriklim dingin, kebutuhan energi di Norwegia sangat tinggi untuk listrik dan pemanas.
Di samping itu, karena wilayahnya luas juga dibutuhkan energi bahan bakar besar. Selain sebagai negara yang berpopulasi rendah, dunia industri setempat mengandalkan pemanfaatan mesin maupun berbagai teknologi tinggi lain yang dengan sendirinya menyerap energi besar.
Tingkat konsumsi tinggi ini menyebabkan emisi gas rumah kaca Norwegia terbilang tinggi. Tahun 2000 industri manufaktur dan pertambangan tertinggi kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca, sementara sektor ekstraksi minyak dan gas menempati tempat kedua.
Sejak tahun 2011 kontribusi tertinggi emisi gas rumah kaca terjadi di sektor ekstraksi minyak dan gas yaitu sebesar 25 persen, industri manufaktur dan pertambangan 23 persen, serta 19 persen emisi rumah kaca datang dari sektor transportasi.
Keseriusan Pemerintah
Mengukur keseriusan Pemerintah Norwegia dalam menyelamatkan lingkungan, setidaknya terlihat dari beberapa hal yaitu pemaksimalan kegiatan penelitian yang hasilnya dipakai dalam menetapkan strategi pemanfaatan energi terbarukan, mendorong dunia usaha berpartisipasi dalam pemanfaatan energi terbarukan, serta pendampingan dan penanaman investasi terhadap berbagai proyek pengurangan emisi hasil lepasan CO2 di berbagai negara.
Pada 2009 pemerintah Norwegia bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca mereka hingga 2020, dan tahun 2050 ditargetkan untuk bisa bebas emisi karbon. Upaya ke arah ini diperhatikan dengan serius oleh pemerintah yang menyadari Norwegia turut andil dalam peningkatan emisi karbon dunia.
Untuk itu, selain menetapkan berbagai kebijakan di dalam negeri, negara ini menyediakan dana investasi bagi berbagai negara di dunia yang akan menyelenggarakan berbagai program pengurangan emisi gas rumah kaca tersebut. Investasi ke luar ini dilandaskan kesadaran, untuk bisa bebas emisi 2050 diperlukan kerja sama global, karena semua pihak mendiami planet yang sama.
Kekuatan Penelitian
Walau sadar akan bahaya tingginya emisi gas rumah kaca dunia, Norwegia tidak menghindar dari kenyataan bahwa 50 persen pendapatan negara masih berasal dari pendapatan minyak bumi dan gas alam. Satu-satunya jalan ialah mencoba mencari sumber energi baru yang juga bisa menguntungkan. Jika pada 2007, 27 juta Euro dihabiskan untuk penelitian, biaya tersebut kemudian melonjak hingga lebih dari 100 juta Euro tahun 2011.
Melalui Lembaga Penelitian Norwegia, pemerintah mendanai program penelitian, pengembangan, dan percontohan (Research, Development and Demonstration/RD&D) untuk mencari energi terbarukan, efisiensi energi, dan pengendalian karbon. RD&D adalah bagian dari strategi nasional yang dicetuskan kementerian energi dan minyak setempat, yang dikenal dengan Energi21.
Dalam hal ini Norwegia menetapkan program “Energi Bersih Untuk Masa Depan” selama periode 2004-2013. Lembaga ini bukan sekadar lembaga penelitian, melainkan lembaga yang mendorong berbagai inovasi yang dapat dimanfaatkan secara nyata.
Program Energi21 mencakup penelitian, pengembangan, percontohan, dan komersialisasi hasil penelitian. Sebagai contoh, sejak 2011 fokus program diarahkan pemanfaatan energi matahari untuk tujuan ekspor, pemanfaatan pembangkit tenaga angin lepas pantai untuk kebutuhan domestik.
Selain itu, pemanfaatan sumber daya domestik untuk memasok pasar Eropa, pengembangan teknologi pengendalian karbon atau CO2 capture and storage (CCS), demi kepentingan menjamin nilai ekonomis sumber daya gas.
Tak kalah penting sistem energi fleksibel yang menjamin keseimbangan dan integrasi berbagai sumber daya terbarukan, serta pengembangan teknologi pengolahan limbah untuk menjadi sumber energi listrik.
Jalan yang ditempuh Norwegia, sebagai raksasa produsen minyak dan gas dalam mengusahakan lingkungan bersih di masa depan dengan tidak mengorbankan kepentingan orang banyak, layak dijadikan bahan perenungan.
Hal itu mencerminkan sejauh mana sebuah negara mau serius dalam berinovasi dan menikmati manfaat inovasi tersebut. Mengembangkan energi terbarukan yang sudah seharusnya menyingkirkan pemanfaatan bahan bakar fosil, adalah langkah bijak yang dapat ditempuh demi kesejahteraan bangsa dan dunia. (Litbang SH)
Sumber : Sinar Harapan
 

Blogger news

Blogroll

About