Pages

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 13 September 2013

Pemanfaatan Energi Terbarukan Tanpa Keterpaksaan



Tingkat konsumsi energi yang tinggi menyebabkan emisi gas rumah kaca Norwegia terbilang tinggi.

Pernahkah terbayang bila sebuah negara yang kaya minyak mentah dan gas maupun produk-produknya, malah meninggalkan potensi tersebut dan beralih ke energi terbarukan demi menyelamatkan lingkungan tanpa kehilangan sumber energi.
 
Apalagi jika upaya tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi negara.
 
Rasanya lebih wajar jika ada negara yang sebelumnya terkenal sebagai pengekspor minyak mengalihkan fokusnya ke potensi pendapatan lainnya di luar bidang energi, terutama karena cadangan minyaknya menipis.
Di Eropa, cadangan minyak bumi dan gas terbesar ada di Norwegia. Untuk minyak bumi, Norwegia adalah produsen minyak terbesar untuk wilayah Eropa, dan pengekspor minyak terbesar ketujuh di tingkat dunia. Untuk gas alam, Norwegia tercatat sebagai pengekspor gas dunia terbesar kedua setelah Rusia.
Selain menyediakan minyak mentah dan gas alam, negara ini memberikan layanan jaringan pipa penyalur bahan bakar fosil ini, ketiganya menyumbang 50 persen pendapatan negara tahun 2010.
Hingga tahun 2001 kilang minyak di sana sanggup menghasilkan 3,4 juta barel minyak per hari, kini menurun tapi masih dalam kisaran 2 juta barel per hari. Produksi gasnya meningkat terus hingga mencapai 3,6 triliun kaki kubik tahun 2011.
Tidak hanya di Laut Utara, negara ini diberkati dengan banyaknya lokasi potensial minyak hingga ke Kutub Utara. Sejak abad 19, para penambang minyak telah mulai mengambil minyak mentah dari pantai-pantai Norwegia untuk tujuan komersial. Kemudian tahun 1960-an penambangan minyak merambah ke Laut Utara di perairan Norwegia.
Norwegia terkenal sebagai negara modern dengan kebutuhan energi sangat tinggi. Akibat beriklim dingin, kebutuhan energi di Norwegia sangat tinggi untuk listrik dan pemanas.
Di samping itu, karena wilayahnya luas juga dibutuhkan energi bahan bakar besar. Selain sebagai negara yang berpopulasi rendah, dunia industri setempat mengandalkan pemanfaatan mesin maupun berbagai teknologi tinggi lain yang dengan sendirinya menyerap energi besar.
Tingkat konsumsi tinggi ini menyebabkan emisi gas rumah kaca Norwegia terbilang tinggi. Tahun 2000 industri manufaktur dan pertambangan tertinggi kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca, sementara sektor ekstraksi minyak dan gas menempati tempat kedua.
Sejak tahun 2011 kontribusi tertinggi emisi gas rumah kaca terjadi di sektor ekstraksi minyak dan gas yaitu sebesar 25 persen, industri manufaktur dan pertambangan 23 persen, serta 19 persen emisi rumah kaca datang dari sektor transportasi.
Keseriusan Pemerintah
Mengukur keseriusan Pemerintah Norwegia dalam menyelamatkan lingkungan, setidaknya terlihat dari beberapa hal yaitu pemaksimalan kegiatan penelitian yang hasilnya dipakai dalam menetapkan strategi pemanfaatan energi terbarukan, mendorong dunia usaha berpartisipasi dalam pemanfaatan energi terbarukan, serta pendampingan dan penanaman investasi terhadap berbagai proyek pengurangan emisi hasil lepasan CO2 di berbagai negara.
Pada 2009 pemerintah Norwegia bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca mereka hingga 2020, dan tahun 2050 ditargetkan untuk bisa bebas emisi karbon. Upaya ke arah ini diperhatikan dengan serius oleh pemerintah yang menyadari Norwegia turut andil dalam peningkatan emisi karbon dunia.
Untuk itu, selain menetapkan berbagai kebijakan di dalam negeri, negara ini menyediakan dana investasi bagi berbagai negara di dunia yang akan menyelenggarakan berbagai program pengurangan emisi gas rumah kaca tersebut. Investasi ke luar ini dilandaskan kesadaran, untuk bisa bebas emisi 2050 diperlukan kerja sama global, karena semua pihak mendiami planet yang sama.
Kekuatan Penelitian
Walau sadar akan bahaya tingginya emisi gas rumah kaca dunia, Norwegia tidak menghindar dari kenyataan bahwa 50 persen pendapatan negara masih berasal dari pendapatan minyak bumi dan gas alam. Satu-satunya jalan ialah mencoba mencari sumber energi baru yang juga bisa menguntungkan. Jika pada 2007, 27 juta Euro dihabiskan untuk penelitian, biaya tersebut kemudian melonjak hingga lebih dari 100 juta Euro tahun 2011.
Melalui Lembaga Penelitian Norwegia, pemerintah mendanai program penelitian, pengembangan, dan percontohan (Research, Development and Demonstration/RD&D) untuk mencari energi terbarukan, efisiensi energi, dan pengendalian karbon. RD&D adalah bagian dari strategi nasional yang dicetuskan kementerian energi dan minyak setempat, yang dikenal dengan Energi21.
Dalam hal ini Norwegia menetapkan program “Energi Bersih Untuk Masa Depan” selama periode 2004-2013. Lembaga ini bukan sekadar lembaga penelitian, melainkan lembaga yang mendorong berbagai inovasi yang dapat dimanfaatkan secara nyata.
Program Energi21 mencakup penelitian, pengembangan, percontohan, dan komersialisasi hasil penelitian. Sebagai contoh, sejak 2011 fokus program diarahkan pemanfaatan energi matahari untuk tujuan ekspor, pemanfaatan pembangkit tenaga angin lepas pantai untuk kebutuhan domestik.
Selain itu, pemanfaatan sumber daya domestik untuk memasok pasar Eropa, pengembangan teknologi pengendalian karbon atau CO2 capture and storage (CCS), demi kepentingan menjamin nilai ekonomis sumber daya gas.
Tak kalah penting sistem energi fleksibel yang menjamin keseimbangan dan integrasi berbagai sumber daya terbarukan, serta pengembangan teknologi pengolahan limbah untuk menjadi sumber energi listrik.
Jalan yang ditempuh Norwegia, sebagai raksasa produsen minyak dan gas dalam mengusahakan lingkungan bersih di masa depan dengan tidak mengorbankan kepentingan orang banyak, layak dijadikan bahan perenungan.
Hal itu mencerminkan sejauh mana sebuah negara mau serius dalam berinovasi dan menikmati manfaat inovasi tersebut. Mengembangkan energi terbarukan yang sudah seharusnya menyingkirkan pemanfaatan bahan bakar fosil, adalah langkah bijak yang dapat ditempuh demi kesejahteraan bangsa dan dunia. (Litbang SH)
Sumber : Sinar Harapan
 

Blogger news

Blogroll

About